Home » , , » Cerita Horor: "Makhluk" Penumpang Gelap

Cerita Horor: "Makhluk" Penumpang Gelap

Written By Mimin on Friday, August 30, 2013 | 10:37 AM

Sebagai seorang perantauan, aku sering banget mengendarai motor untuk pulkam—mondar-mandir Batang-Cirebon. Saking seringnya, teman-teman menjulukiku sebagai bikerrider, dan istilah-istilah yang mirip dengan dunia motor. Aku tidak masalah dengan julukan itu. Toh, julukan yang mereka sematkan kepadaku membuatku bangga. Tidak banyak orang mau melakukan apa yang kulakukan—mereka lebih memilih pulkam setahun sekali saat lebaran tiba. Ah, tapi lupakan soal itu. Bicara soal mengendarai motor, aku pernah mengalami bad dayyeah, sebut saja hari apesku.

Begini ceritanya…

***

Suatu malam, di tengah tidur pulasku, ada telepon dari rumah yang mengabarkan jika Kakekku meninggal dunia. Sudah lama Kakek menderita sakit—sakit tua—, soalnya usianya telah mencapai 85 tahun. Kabar itu kuterima kira-kira pukul setengah satu malam. Aku memutuskan untuk pulang ke Cirebon malam itu juga, supaya besok aku berkesempatan mengantarkan jenazah Kakek ke makam.

Sebagai penghormatan terakhirku kepadanya. Soal kerjaan, besok aku akan mengabari orang kantor kalau aku alpa datang karena Kakekku meninggal.

Tanpa persiapan yang banyak dan lama, aku langsung memacu motorku. Menembus gelap dan dinginnya malam.

***

Aku meluncur melalui jalan Pantura (Pantai Utara), yang malam itu asyik sekali untuk dilewati karena sepi. Tidak banyak kendaraan yang melintas di sana. Tidak ada motor melintas, baik searah maupun berlawanan arah. Yang ada cuma truk-truk yang berjalan pelan, bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) yang melaju cepat seolah tak ingin dihalangi jalannya, dan mobil-mobil pribadi.

Semuanya berjalan normal-normal saja sampai masuk ke Jalan Lingkar Pemalang. Dua kilometer selepas traffic light dari jalan lingkar Pemalang sampai sungai besar, hal yang janggal pun terjadi.

Kenapa aku bisa berkata seperti itu? Karena, aku mencium aroma singkong bakar. Bagaimana mungkin aku yang sedang mengendarai motor ini bisa mencium aroma singkong bakar? Lagipula, kiri kananku bukanlah ladang singkong, melainkan pematang sawah yang terhampar luas—yang tentunya malam itu cuma terlihat dalam kegelapan saja.

Menurut cerita yang kudengar dari orang-orang, bau singkong bakar ini merupakan tanda kehadiran makhluk astral bernama Genderuwo. Tapi, aku coba tepiskan itu—aku coba berpikiran positif. Karena, selama ini tidak pernah mengalaminya—dan tentunya tidak mau juga. Yang penting, aku tidak diganggu. Itu saja.

Namun, sudah lebih satu kilometer dari situ, aroma singkong bakar pun masih tercium oleh hidungku ini. Justru di tengkuk (leher bagian belakang) terasa hawa dingin. Supaya tidak merasa sendiri, aku segera memepet (mengikuti) di belakang mobil berplat B. Lampu mobil itu lumayan menambah penerangan jalan dibandingkan hanya lampu motorku sendiri.

Begitu ada dua bus dari arah berlawanan sejajar denganku, tampak bayangan motorku dan aku sendiri di samping body bus. Di situlah, samar-samar aku melihat ada bayangan aneh tepat di punggungku. Tingginya kira-kira tiga meteran. Aku yang terkejut segera melihat spion dan meraba jok belakang. Ternyata tidak ada apa-apa. Cuma motor yang kutunggangi terasa lebih berat, seperti terbebani oleh sesuatu.

Aku berusaha tidak kehilangan konsentrasi dalam mengendarai sepeda motorku. Kemudian, tiba-tiba aku kebelet buang air kecil yang tidak bisa ditunda-tunda lagi—biasanya aku bisa tahan hingga SPBU. Tiga kali. Pertama, aku berhenti di tempat gelap, dimana terdapat pohon besar yang menjulang tinggi. Daerah itu menurutku sudah masuk wilayah Tegal. Kedua, buang air kecil di dekat rimbunan pohon bambu—satu kilometer dari alun-alun Brebes. Yang ketiga, aku buang air di Kanci, di samping gedung kosong yang sedang dibangun. Pas berhenti di tempat terakhir ini aku merasakan ada hembusan angin di belakang punggung. Begitu pun waktu aku melanjutkan perjalanan, hembusan angin masih terasa.

Selama sisa perjalanan, tengkuk dan motorku makin terasa beratnya. Beruntungnya, aku masih tetap bisa berkonsentrasi mengendarai motor gedeku hingga tiba di Cirebon sekitar pukul 3 pagi.

Cuma, sesampainya di rumah, aku tidak bisa ngapa-ngapain. Badanku panas. Bawaannya mau marah-marah terus, gampang naik pitam. Beberapa orang mengatakan kalau emosi jiwa yang melandaku gara-gara Kakek meninggal. Bisa dikatakan, aku anak Kakek. Niat untuk melayat, memberi penghormatan terakhir kepada Kakek harus terganggu gara-gara masalah ini.

Waktu adzan Subuh berkumandang, Bapak memintaku supaya salat terus tidur. Mungkin aku kelelahan di jalan atau pikiran. Alhamdulillah, setelah mengikuti saran Bapak, tubuhku jadi lebih enteng dan emosiku lebih stabil. Berakhir sudah cerita horor ku. Ada tetangga yang menjelaskan, jika dalam perjalanan ada makhluk halus yang numpang di jok belakang motorku. Jujur saja, hingga saat ini aku tidak tahu “makhluk” apa itu. Hiii…[]

0 comments:

Post a Comment